Cari Blog Ini

Jumat, 17 Desember 2010

Sejarah Bermain Lelucon Dengan Para Ilmuwan?

evolusivas2.jpg (400×373)
itu terasa panas, seorang laki-laki memutuskan untuk berjalan-jalan disepanjang pantai. Tak lama kemudian, dia merasakan pijakan halus dibawah kaki-nya. Dia berhenti untuk memeriksa sol sepatunya di bawah sinar bulan, dan tanpa sengaja dia telah menginjak binatang kecil. Dia tampak tak peduli dan meneruskan jalan-jalan santainya, tanpa menyadari bahwa jejak kaki yang telah mengakhiri hidup binatang kecil itu akan abadi. Lagipula, apa anehnya menginjak seekor trilobite?
Kira-kira 320 juta tahun lalu, suatu spesies makhluk kecil berbentuk lengkung mulai berpopulasi di samudera bumi. Kerabat arachnida laut -semacam lobster dan kepiting- ini pernah berkembang biak dengan pesat, namun mengalami kepunahan 280 juta tahun yang lalu. Binatang ini adalah trilobite.

Manusia, seperti yang umum diterima oleh mayoritas ilmuwan, mulai muncul sebagai suatu spesies tak lebih dari 2-3 juta tahun lalu. Dan sejarah manusia seperti yang kita ketahui saat ini tak lebih dari 10.000 tahun.
Melihat usia fosil tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa cerita tentang manusia yang menginjak sebuah trilobite termasuk kategori fiksi ilmiah. Seorang manusia tidak mungkin menginjak seekor makhluk yang telah punah jutaan tahun lalu, apalagi seseorang dengan sepatu –yang tidak diragukan lagi merupakan indikasi adanya peradaban. Ini adalah bukti yang menentang sejarah– fosil yang mustahil.
Bulan Juni 1968, seorang kolektor fosil amatir William J. Meister menemukan sebuah batu setebal 2 inci di Antelope Spring, Utah, AS. Dengan pukulan palu-nya, dia menemukan fosil jejak kaki manusia. Tetapi jejak kaki ini mempunyai suatu hal yang spesial - yaitu trilobite yang terinjak. Tak lama kemudian berita menyebar ke seluruh dunia, beberapa penyelidik mendatangi Antelope Spring, mencari beberapa petunjuk-petunjuk lain yang dibuat oleh sepatu bergaya modern ini di lapisan usia batu geologi yang menyimpang sangat jauh. Lelucon apakah yang sedang dimainkan oleh sejarah?

Penemuan terdahulu
evolusivas.jpg (206×240)
Tahun 1852 sebongkah batu besar di Dorchester, Massachusetts, AS, diledakkan. Setelah itu, para pekerja menemukan sebuah artifak metalik yang mencurigakan diantara reruntuhan, yang telah terpecah menjadi dua.

Ketika menggabungkan kedua bagian tersebut, mereka menemukan bejana berbentuk seperti bel dengan ukuran dasar 6,5 inci (sekitar 16.5cm) dan tinggi 4,5 inci (sekitar 11.5 cm). Kemudian mereka mengetahui bahwa bejana tersebut dibuat dari seng bercampur perak. Artifak ganjil ini nampaknya dibuat dengan teknologi tinggi, namun terperangkap dalam batu yang terbentuk jutaan tahun yang lalu, ketika manusia belum eksis.

Penemuan-penemuan semacam ini tidaklah sedikit. Sesungguhnya, mereka mempertanyakan pemahaman modern atas asal mula manusia, situs-situs arkeologi memiliki waktu untuk menyembunyikan beragam obyek yang menantang.

Delapan tahun sebelum penemuan vas (jambangan) oleh Dorchester, sebuah paku besi yang sempurna ditemukan di dalam lapisan batu karang setebal 24 inci (=61cm) dalam tambang Kingoodie, Skotlandia. Ujung dari paku ini mencuat keluar, sementara satu inci dari ujung, termasuk kepala paku, tertancap di dalam batu.
evolusivas1.jpg (400×342)
Padahal dalam perhitungan kasar, batuan karang semacam itu paling tidak terbentuk 60 juta tahun lalu.
Di tahun 1880 an, seorang pengusaha peternakan Colorado mengekstraksi bagian karbon pada lapisan mineral 300 kaki di bawah permukaan. Kemudian di rumahnya, saat dia memecah bagian yang telah diekstrak, dia menemukan sarung tangan besi yang aneh. Kabar penemuan ini menyebar dengan cepat, mereka menyebutnya sebagai Thimble of Eve (Sarung Tangan Hawa), tetapi berkaitan dengan sifat korosifnya dan penanganan yang berlebihan, akhirnya sarung tangan itu hancur.
Telah kita ketahui bahwa sarung tangan sudah digunakan selama ribuan tahun lalu. Namun demikian, detail yang mencurigakan dalam hal ini adalah karbon dimana sarung tangan itu ditemukan, terbentuk 70 juta tahun lalu, antara jaman Cretaceous (Kapur) dan Tertiary (Tertier). Menurut pemahaman modern (teori evolusi Darwin), nenek moyang manusia pada masa itu bahkan belum berwujud kera, hanya berupa mamalia lebih kecil, dengan mata menonjol keluar, berayun-ayun diantara ranting-ranting pohon.
Cube of Salzburg (Kubus dari Salzburg) merupakan cerita menarik lainnya. Cerita ini dipublikasikan umum pada saat tahun 1885, seorang pelebur besi asal Austria memisah karbon menjadi beberapa bagian dan menemukan artifak besi yang berbentuk dadu/kubus. "Masing-masing sisi obyek asing ini benar-benar lurus dan tegas; empat sisinya berbentuk rata, sedang dua sisi lain yang berhadapan berbentuk cembung. Setengah bagian keatas merupakan celah yang dalam" tulis Rene Noorbergen, spesialis dalam kasus ini.
Analisa kimia kemudian menetapkan bahwa obyek tersebut tidak mengandung bahan-bahan semacam krom, nikel, atau kobalt, namun sebagai penggantinya memilik komposisi semacam besi tempa. Nampaknya komposisi ini menyimpang dari hipotesa bahwa dadu ini merupakan benda meteorit, seperti anggapan beberapa pihak.
Penemuan arkeologi lain tersembunyi dalam endapan karbon ditemukan di tahun 1891 oleh S.W. Culp, seorang wanita asal Illinois, AS. Ketika dia sedang mengekstrasi material hitam tersebut, tanpa sengaja, dia mematahkan pecahan karbon dan sebuah rantai emas yang sangat tipis terpukul lepas. Rantai ini tersimpan di dalam rongga berbentuk busur di dalam karbon.
evolusivas3.jpg (1003×240)
Hal lain dipublikasikan tahun 1831 oleh American Journal of Science, berkaitan dengan sebuah balok marmer yang diambil dari kedalaman sekitar 60 kaki (= 18 m), yang kemudian dipotong-potong menjadi bagian-bagian lebih kecil. Marmer tersebut, diyakini telah terbentuk jutaan tahun lalu, memperlihatkan potongan-potongan secara presisi 2 x 0,5 inci (5x1.25cm) - dengan bentuk sangat mirip dengan karakter huruf u dan i. keteraturan symbol tersebut memberikan kesan telah diukir oleh tangan-tangan manusia.
Hal yang mirip juga diungkapkan di tahun 2002 di Propinsi Guizhou, Tiongkok, dimana sebuah batu yang pecah telah ditemukan, sekilas, menampilkan karakter huruf Tiongkok yang tidak dapat dijelaskan asalnya, mengingat batu tersebut terbentuk 200 juta tahun lalu. Peninggalan ini dikenal sebagai The stone of Hidden Words.
Fosil modern
Di tahun 1976, sebuah sendok ditemukan dalam sebongkah batubara lunak Pennsylvania, AS, pada penggalian yang dimulai tahun 1937, telah  menarik perhatian umum. Mengesampingkan penemuan-penemuan yang dapat ditafsirkan sebagai kejadian yang kebetulan, kita coba menengok pada penemuan tulang manusia yang disampingnya terdapat anak panah berujung tembaga sepanjang 10 inci (=25 cm), dalam tambang perak Colorado pada tahun 1967. Menurut perkiraan umum, mineral yang terkandung didalamnya, telah berumur jutaan tahun, lebih tua daripada ras manusia.
Ketika ilmu genetika dan biologi menunjukkan kepada kita dengan penelitian-penelitan barunya setiap hari, mencoba untuk memperjelas asal usul semua spesies, fosil-fosil baru akan tetap bermunculan – semakin banyak petunjuk tentang kemajuan masa lalu yang berusia sangat lama. Sering kali, penemuan-penemuan ini memiliki andil dalam memahami asal usul manusia yang jauh menyimpang dari apa yang selama ini telah dipercaya.
Mungkin fosil yang paling kontroversial di tahun-tahun belakangan ini adalah fosil yang ditemukan oleh seorang geologis dari Universitas Jadaypur di Kalkuta, India. Fosil berusia 1.100 juta tahun, batu berwarna kemerah-merahan ditemukan di Madhya Pradesh, Chorhat, menakjubkan para ilmuwan. Ini mirip dengan jejak zigzag yang dibuat oleh cacing.
Fosil semacam ini yang paling tua diketahui berasal dari Namibia dan Tiongkok, dan dari petunjuk yang ada, dipahami berasal dari organisme yang terdiri dari banyak sel, dimana bentuknya mengalami evolusi kira-kira 600 juta tahun lalu. Jika penemuan di India ini telah ditafsirkan dengan baik, maka hal tersebut akan membawa pertimbangan ulang yang serius tentang dasar teori evolusi, memberikan lompatan raksasa (400 atau 500 juta tahun) antara fosil ini dengan yang ditemukan di Namibia dan Tiongkok.
 "Jika anda melihat organisme skala sentimeter dan kemudian tidak melihatnya lagi selama 400 juta tahun, anda akan mempunyai banyak hal untuk dijelaskan," kata seorang ahli purbakala Andrew Knoll dari Harvard University.
Setelah petunjuk baru yang ditemukan di batu-batuan serupa, para ilmuwan yang tidak percaya dipaksa untuk menganalisa umur bebatuan itu lagi. Tetapi spesimen (zirconium crystals) ini tetap menunjukkan kemustahilannya, sehingga keluar pernyataan "semakin menarik dan semakin mustahil" seperti yang diungkapkan oleh Adolph Seilacher seorang ahli fosil dari Universitas Yale.
Seilacher percaya bahwa berdasarkan apa yang telah diterima umum, fosil jejak ini tidak mungkin berasal dari binatang. Namun demikian dia menambahkan: "Pada saat yang sama, saya harus menerima bukti tersebut. Saya belum menemukan ataupun mendengar penjelasan lain dari ilmuwan lain. Apakah ada penjelasan non-biologi untuk petunjuk ini?" Penelitian ini diterbitkan pada jurnal Science 2 Oktober 1998.
Sesungguhnya, banyak fosil yang menantang pemahaman modern tentang sejarah. Penunjukan tangan manusia yang lengkap (berikut kuku-kukunya) berumur 110 juta tahun telah ditemukan di Limestone, Glen Rose, Texas; sebuah jari membatu yang berumur 100 juta tahun (fosil diidentifikasikan sebagai OM93-083), dimana tulang strukturnya terlihat melalui radiografi, telah ditemukan di Axel Heiberg Island di Canada; ada juga penemuan jejak kaki manusia raksasa yang terkenal disamping fosil dinosaurus di Rio Paluxy, Texas; dan masih banyak lagi. Keandalan teori-teori saat ini seringkali dikejutkan "fosil mustahil" yang bermunculan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOTAK KOMENTAR

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...