Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label fosil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fosil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Desember 2010

Fosil di Siberia Adalah Leluhur Orang Papua

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixT5x5wxqESfYvf1kB4kHgw1Vqw5LzdTNHielY1ssSmq09DXXrdDt91nLSLZd6XBJBapZhzzXYD2q-QM9RgAifRV0k-OIpIYHRkzwfCzipWqy3EY-nMzAfImotUN-0-B36pcOl2eXVwgUG/s1600/photo-z-asmat2.jpg

Sejumlah ilmuwan yang mencoba memecahkan sandi DNA sebuah fosil keluarga manusia yang ditemukan di Siberia, Rusia, terperanjat. Lima persen DNA orang Melanesia yang mendiami Papua dan Australia itu ditemukan di makhluk yang dijuluki "Denisovans" itu.

"Kami kira ini kesalahan ketika pertama melihatnya," kata David Reich, peneliti dari Harvard University, yang menulis laporan ilmiah ini. "Namun ini nyata," katanya dilansir the Associated Press, Rabu 22 Desember 2010. Lebih aneh lagi, fosil itu justru tak menunjukkan sama sekali kaitan dengan nenek moyang orang yang sekarang mendiami Siberia. Padahal, lebih dari 30 ribu tahun lalu, "Denisovans" malang melintang di benua Asia.

Laporan mengenai kaitan "Denisovans" dengan ras Melanesia ini merupakan laporan kedua setelah laporan yang menyimpulkan terjadi perkawinan silang manusia (homo sapiens) dengan Neanderthal di Timur Tengah, sesaat setelah nenek moyang manusia keluar dari Afrika namun sebelum mendiami Eurasia (kawasan antara Asia dan Eropa).

Sementara untuk "Denisovans" kemungkinannya terjadi kawin campur dengan nenek moyang orang Papua yang bermigrasi keluar dari Afrika sekitar 45 ribu tahun lalu. Namun para ahli masih melanjutkan penelitian lebih jauh soal genom "Denisovans" ini. Todd Disotell dari New York University menyatakan, mereka harus mencari petunjuk jejak warna kulit dan matanya.

"Kami akan merinci gambaran orang ini dalam beberapa tahun ke depan berdasarkan genom ini," katanya. Keberadaan sanak manusia ini terungkap sembilan bulan lalu berdasarkan sampel DNA yang diselamatkan dari sebuah tulang jari yang ditemukan di Gua Denisova di selatan Siberia. Para peneliti lalu menggunakan Denisovans untuk genom itu, meski belum diketahui apakah mereka merupakan spesies terpisah dengan manusia (homo sapiens).

Namun genom yang ditemukan telah membuktikan Denisovans lebih berkerabat dekat dengan Neanderthals daripada manusia modern. Temun ini mengindikasikan bahwa keduanya muncul dari sebuah nenek moyang yang sama.

Ilmuwan belum tahu seperti apa perawakan Denisovans ini. Namun dari sebuah temuan geraham atas Denisovans di gua itu, ukuran dan bentuknya berbeda dengan Neanderthals dan manusia modern, yang sama-sama pernah hidup seperiode dengan mereka.

David Reich menyatakan, jari dan gigi itu belum ditentukan tanggalnya, namun berdasarkan temuan tulang binatang di sekitarnya, diperkirakan lebih dari 30 ribu atau bahkan 50 ribu tahun yang lalu. Dan mereka atau nenek moyang mereka diduga kawin-mawin dengan nenek moyang manusia modern yang merantau ke Papua pada 45 ribu tahun lalu.

Namun, menurut Reich, aneh jika perjalanan nenek moyang orang Papua melewati Siberia untuk sampai ke Papua. Kemungkinannya adalah Denisovans ini yang melanglang Asia termasuk sampai ke selatan. "Jelas sekali mereka menyebar di Asia," katanya. Dan ini butuh penelitian DNA warga Asia yang terisolasi lama.

Sementara itu, Rick Potts, Direktur Program Asal-usul Manusia di Smithsonian Institution, berpendapat, penemuan gen Denisovans ini memperkuat dugaan mereka berbeda dengan Neanderthals dan manusia modern. Meski ditemukan DNA Melanesia di Denisovans, Potss berpendapat bukan karena perkawinan campur namun karena DNA dari nenek moyang itu yang bertahan pada mereka namun hilang di populasi manusia modern umumnya.

Penemuan ini membuat teori yang dikemukakan ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris, Stephen Oppenheimer, menemukan basis. Dalam bukunya, Eden in The East, Oppenheimer mengemukakan teori Sundaland merupakan pusat peradaban.

Menurut dia, nenek moyang dari induk peradaban manusia modern berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan sundaland atau Indonesia. Oppenheimer menceritakan, niatnya meneliti ini dimulai dari  komentar tanpa sengaja oleh seorang pria tua di sebuah desa zaman batu di Papua Nugini.

Dari situ dia mendapati kisah pengusiran petani dan pelaut di pantai Asia Tenggara, yang diikuti serangkaian banjir pasca-sungai es hingga mengarah pada perkembangan budaya di seluruh Eurasia. Oppenheimer meyakini temuan-temuannya itu, dan menyimpulkan bahwa benih dari budaya maju, ada di Indonesia.

Buku ini mengubah secara radikal pandangan tentang prasejarah. Pada akhir Zaman Es, banjir besar yang diceritakan dalam kitab suci berbagai agama benar-benar terjadi dan menenggelamkan paparan benua Asia Tenggara untuk selamanya.

Hal itu yang menyebabkan penyebaran populasi dan tumbuh suburnya berbagai budaya Neolitikum di Cina, India, Mesopotamia, Mesir dan Mediterania Timur. Akar permasalahan dari pemekaran besar peradaban di wilayah subur di Timur Dekat Kuno, berada di garis-garis pantai Asia Tenggara yang terbenam.

"Indonesia telah melakukan aktivitas pelayaran, memancing, menanam jauh sebelum orang lain melakukannya," ujar dia. Oppenheimer mengungkapkan bahwa orang-orang Polinesia (penghuni Benua Amerika) tidak datang dari Cina, tapi dari pulau-pulau Asia Tenggara. Sementara penanaman beras yang sangat pokok bagi masyarakat tidak berada di Cina atau India, tapi di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu.

Senin, 20 Desember 2010

Perdagangan Gelap Fosil Manusia Purba Sangiran

Perdagangan Gelap Fosil Manusia Purba Sangiran


Kubah Sangiran di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, menyimpan puluhan ribu fosil dari jaman pleistosen (1.8 juta - 11.500 tahun lalu).

Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil, di mana 2.931 fosil diantaranya disimpan di Museum Sangiran, sedangkan sisanya ada di gudang penyimpanan.

Sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage List) museum ini dilengkapi sejumlah fasilitas seperti ruang pamer (fosil manusia, binatang purba), laboratorium, gudang fosil, ruang slide dan kios-kios cinderamata khas Sangiran.

Berdasarkan penelitian para ahli Geologi, pada masa purba Sangiran adalah hamparan lautan.

Akibat proses geologi dan letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, Sangiran menjadi daratan. Terbukti, lapisan-lapisan tanah pembentuk wilayah Sangiran sangat berbeda dari lapisan tanah di tempat lain.

Dari setiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil, berdasarkan jenis dan jamannya.

Misalnya, fosil binatang laut ditemukan di lapisan tanah paling bawah yang dahulu berupa lautan.

Fosil-fosel yang ditemukan di Dome Sangiran ini dikumpulkan dan disimpan di Museum Sangiran.

Untuk jenis hominid purba (diduga sebagai awal evolusi manusia) ada 50 (Limapuluh) jenis.

Fosil-fosil yang ditemukan di Kawasan Sangiran merupakan 50 persen dari temuan fosil di dunia dan 65 persen dari seluru temuan fosil di Indonesia.

Oleh karena itu, dalam sidang ke-20 di Marida, Meksiko, pada 5 Desember 1996, Komisi Warisan Budaya Dunia menetapkan Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia momor 593.

Di Musium Sangiran ini fosil-fosil manusia purba dikoleksi dari berbagai jenis dan zaman.

Fosil-fosil itu antara lain Australopithecus Africanus, Pithecanthropus Mojokertensis (Pithecantropus Robustus ), Meganthropus Palaeojavanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis, Homo Neanderthal Eropa, Homo Neanderthal Asia, dan Homo Sapiens.

Sementara fosil binatang bertulang belakang, terdiri dari Elephas Namadicus (gajah), Stegodon Trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus Palaeokarabau (kerbau), Felis Palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus Sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).

Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera.

Kemudian, dari jenis bebatuan adalah Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis.


Terakhir, alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak.

Perdagangan ilegal

Hampir setiap hari masyarakat menemukan fosil-fosil di kawasan Dome Sangiran.

Jadi, tidak heran jika koleksi fosil di museum ini terus bertambah.

Masalahnya, pihak museum kewalahan menampuh fosil temuan masyarakat tersebut.

Yang kemudian merisaukan dari keadaan ini adalah fosil-fosil ini menjadi objek perburuan gelap, terutama karena selisih harga kompensasi penemuan fosil yang besar.

Beberapa warga menyebutkan, jika fosil-fosil ini diserahkan ke Museum Sangiran imbalan yang mereka terima sangat kecil, sebaliknya jika dijual keluar museeum harganya lebih mahal.

Buktinya, beberapa waktu lalu terungkap perdagangan gelap fosil asal Sangiran yang melibatkan penduduk setempat dengan seorang wisatawan asal Amerika Serikat.

Wasimin (50), warga Krikilan RT8, Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen menjadi pengumpul fosil-fosil gelap yang ditemukan masyarakat daerah ini.

Wasimin tidak menyerahkannya ke museum, namun menjual kumpulan fosil-fosil ini kepada Dennis Bradley Davis (52) warga Ocean City, AS yang datang ke Indonesia sebagai wisatawan.

Fosil-fosil itu dipak dalam kardus dan karung terus, untuk kemudian dibawa ke Yogyakarta oleh sebuah truk yang dikemudikan Aris Nugroho.

Sebelum sampai ke tujuan, polisi keburu menciduk truk ini. Seketika itu pula Wasimin dan Dennis Bradley Davis serta Aris Nugroho ditangkap polisi dari Polres Sragen. Sementara fosil dan truk disita sebagai barang bukti.

Fosil-fosil itu diketahui berumur 700 ribu sampai satu juta tahun, sementara jumlahnya ribuan.

Benda-benda bersejarah itu ditawarkan kepada Dennis Bradley Davis pada harga Rp58 juta.

Seluruh fosil yang dijual itu ada 43 jenis dari berbagai ukuran. Yang paling banyak adalah fosil gading gajah, tanduk banteng, rahang buaya, gigi bovidae, gigi stegodone, tulang kaki bovidae, kalung prakmen tulang, dan gigi elephes. Ada juga puluhan jenis potong fosil binatang purba lainnya.

Kasubag Humas Polres Sragen AKP Mulyani mengungkapkan, tidak sekali ini Wasimin menjual fosil ke warga negara AS itu. Dia pernah mendapatkan Rp13 juta dari transaksi gelap pertamanya dengan warga AS itu.

Fosil-fosil yang dijual pertama kali oleh Wasimin itu sekarang sudah diambil dan disimpan di Jogyakarta.

Sedangkan fosil-fosil ilegal yang baru saja disita polisi, untuk sementara berada di Mapolres Sragen.

Polisi akan memakainya sebagai barang bukti di persidangan nanti.

Wasimin dan Dennis Bradley sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dijerat Pasal 26 dari UU RI No.5/1991 tentang Benda Cagar Budaya.

Kedua orang berbeda bangsa ini diancam dipenjara 10 tahun dan denda Rp100 juta. 

Fosil 'Kadal Raksasa' Ditemukan di Texas




Paleontolog telah menemukan fosil yang hampir lengkap dari Dimetrodon, seekor reptil purba berbentuk kadal raksasa yang hidup di jaman Permian sekira 287 juta tahun yang lalu.

Kini, tim peneliti tersebut sedang bekerja untuk memindahkan fosil tersebut dari situs penemuannya di utara Texas, ke Houston, tempat di mana fosil tersebut akan ditaruh di Houston Museum of Natural Science (HMNS). 

Dimetrodon, kadal purba yang terkenal karena layar di punggungya, sering disalah pahami sebagai dinosaurus, karena spesie ini sudah ada jutaan sebelum dinosaurus eksis.

"Fosil Dimetrodon pertama kali ditemukan pada akhir periode 1800-an. Penemuan baru ini adalah yang paling lengkap dalam 100 tahun untuk spesies ini," ujar Robert Bakker, curator of paleontology di HMNS.

Fosil Dimetrodon ini dinamakan sebagai 'Wet Willi' oleh para ilmuwan. Wili diambil dari nama seorang paleontolog yang menggali di tempat sama 100 tahun yang lalu, Samuel Wiliston. Di tempat penemuan fosil Dimetrodon ini memang kaya akan fosil-fosil reptil purba.

"Situs ini memiliki banyak fosil Dimetrodon dibandingkan tempat manapun di dunia ini," tambah Bakker.

Fosil Gading Gajah Purba Ditemukan




Enam fragmen gading Stegodon trigonocephalus atau gajah purba ditemukan di lereng tebing di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Panjang gading itu 2,5 meter dan diperkirakan berumur 700.000 tahun.


Gading itu diperkirakan dari gajah yang panjang tubuhnya sekitar 11 meter dan tingginya 6 meter. Gading ini ditemukan di lapisan Kabuh pukul 06.00 oleh seorang warga bernama Asmorejo yang langsung melaporkan temuannya kepada kepala dusun setempat. ”Pak Asmorejo tengah berjalan-jalan menyusuri lereng bukit. Saat itu habis hujan. Ia melihat bagian kecil dari potongan gading yang menyembul ke permukaan tanah,” kata Gunawan, konservator yang juga anggota staf Seksi Pemanfaatan Balai Pelestari Situs Manusia Purba Sangiran.



Petugas dari BPSMPS langsung menggali lokasi penemuan gading karena khawatir gading tersebut dicuri. Meskipun sebelumnya pernah ditemukan gading gajah purba sepanjang empat meter, gading temuan baru ini cukup istimewa karena tergolong utuh walaupun terbagi dalam enam potongan.
Sejak awal Januari 2010, ditemukan lima fosil lainnya atas laporan warga, yakni fosil rahang atas babi, rahang atas kuda nil, tanduk banteng, tulang rusuk gajah, dan kepala banteng. Penemu gading yang melapor kepada BPSMPS dijanjikan mendapat imbal jasa.
Kurang sepadan
Seorang warga Sangiran, Tono, mengeluhkan imbalan jasa yang dinilainya kurang sepadan dan waktu pemberiannya yang lama. Hal itu, katanya, yang menyebabkan banyak warga diam-diam menjual fosil temuan mereka kepada penadah.
”Kalau kita menemukan gading gajah 3meter, pedagang menawarkan Rp 50 juta, sementara Balai hanya memberikan Rp 1 juta. Padahal, kalau dinaikkan sedikit, Rp 4 juta-Rp 5 juta, pasti warga memilih menyerahkan ke Balai. Hal lain, pemberiannya lama, enam bulan baru uang diberikan. Padahal, perut menunggu untuk diisi. Tanah pertanian di sini tidak bagus. Hanya fosil yang ada di tanah kami,” katanya.
Tono mengatakan, tiga bulan sekali satu kontainer pecahan kecil fosil-fosil dari Sangiran serta dari sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo dikirimkan ke pembeli di luar negeri. ”Fosil kecil biasanya tidak diterima Balai,” katanya.
Kepala BPSMPS Harry Widianto mengatakan, mulai 2010 pihaknya menerapkan imbalan jasa diberikan dalam waktu satu minggu. Sejak awal Januari, pihaknya telah mengeluarkan Rp 8 juta-Rp 9 juta untuk imbal jasa penemuan lima fosil. ”Memang nilai imbal jasa sudah ada kriterianya. Fosil manusia tentu lebih berharga daripada fosil hewan,” ujarnya.

Selasa, 07 Desember 2010

Fosil Buaya Purba Berumur 100 Juta Tahun


Fosil buaya purba berusia 100 juta tahun. Sebuah fosil kepala hewan purba ditemukan di Thailand. Bentuknya relatif pipih, dengan bentuk moncong yang memanjang. Setelah diindentifikasi, itu adalah fosil buaya  yang diperkirakan hidup 100 juta tahun lalu.

Ilmuwan dari Mahasarakham University, Komsorn Lauprasert mengatakan, spesies ini memiliki kaki yang lebih panjang dari buaya modern. Dari karakteristik giginya, ini adalah pemakan ikan. "Mereka hidup di daratan dan bisa berlari sangat cepat," kata Komsorn, seperti dimuat Fox News, 25 November 2010.

Komsorn menemukan fosil ini di sebuah museum pada tahun 2006. Fosil sepanjang 6 inchi ini ditemukan di situs penggalian di Provinsi Nakhon Rathchasima atau Korat, Thailand. Buaya jenis ini dinamakan "Khoratosuchus jintasakuli" -- gabungan dari lokasi penemuannya, Korat dan direktur institut riset, Pratueng Jintasakul.

Temuan buaya ini telah dipublikasikan dalam The Geological Society, London. Wilayah tenggara Thailand sejak lama telah dinyatakan sebagai situs penting bagi para paleontologis. Sejumlah temuan penting ditemukan di lokasi yang dijuluki 'sabuk dinosaurus' itu, di mana sedimen batuan era Mesozoikum terdorong ke permukaan.

Peneliti gabungan dari Thailand dan  Perancis mulai melakukan penelitian bersama di kawasan itu pada 1980 -- setelah ilmuwan pencari uranium menemukan tulang paha dinosaurus pada akhir tahun 1970.

KOTAK KOMENTAR

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...