Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Desember 2010

Tradisi Perang Suku di Pedalaman Mimika Papua

Dipicu Dendam Antar keluarga atau Kasus Perselingkuhan
Perang antarsuku seakan masih menjadi tradisi di beberapa daerah 
pedalaman Papua. Termasuk perang di Kelurahan Kwamki Lama, Distrik Mimika Baru, 
Kabupaten Mimika, antara suku Dani dan suku Damal . Apa 
pemicunya?
Laporan S AMBING dan KISS RG KOIBUR, Timika 

DI wilayah Kabupaten Mimika ada tujuh suku. Mereka adalah Amungme, 
Kamoro, Dani, Damal, Nduga, Mee, dan Moni. Biasanya, kelompok-kelompok ini 
dipisahkan oleh letak geografis. Namun, bisa jadi, sebuah desa atau distrik 
ditinggali lebih dari satu suku.

Suku Kamoro, misalnya, tinggal di dataran rendah hingga bagian pantai 
Mimika. Suku Amungme banyak mendiami daerah pegunungan. Kedua suku tersebut 
banyak disebut orang sebagai suku asli Mimika. Lima suku lain datang dari 
wilayah kabupaten sekitar Mimika.

Suku Dani berasal dari bagian barat Kabupaten Jayawijaya (Wamena). Suku 
Damal berasal dari Mulia, pertengahan antara Kabupaten Jayawijaya dengan 
Kabupaten Paniai. 

Kepala Suku Dani, sekaligus anggota DPRD Mimika, Philipus Wakerwa kepada 
JPNN mengungkapkan, pribadi keras dan tegas yang menjadi ciri khas warga 
pribumi tidak terlepas dari pengaruh topografi alam dan pola hidup di daerah 
pedalaman.

Akibatnya, saat berhadapan dengan perkembangan daerah yang cukup 
signifikan, mereka mengalami keterkejutan budaya (cultural shock). Karena itu, 
kuat kesan bahwa warga pedalaman Papua resistan dengan perubahan. Bahkan, 
sering mereka menyikapinya dengan emosional.

''Ada dua persoalan yang bisa memicu warga angkat panah. Balas dendam 
karena anggota keluarganya disakiti atau kasus perselingkuhan. Biasanya, 
perselingkuhan bisa di dalam kerabat atau dengan suku lain," kata Philipus. 

Philipus mengatakan, sebagian besar warga pedalaman belum melek hukum. 
''Hampir semua warga Dani di sini (Mimika, red) berasal dari daerah pedalaman, 
khususnya lembah Baliem (Kabupaten Jayawijaya). Jadi, ketika berhadapan dengan 
keharusan mengikuti hukum positif, sangat sulit," ujarnya. 

Mereka lebih taat kepada hukum adat daripada hukum nasional. ''Yang lebih 
mendominasi pikiran mereka adalah aturan adat. Ini juga terbentuk karena hidup 
di pedalaman penuh tantangan. Bukan hanya alam yang keras, tuntutan mencari 
nafkah mengharuskan mereka berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun naik turun 
gunung dan lembah. Jangan heran apabila watak masyarakat pribumi keras dan 
tegas,'' sambung Philipus. 

Dia kemudian mencontohkan, kebiasaan yang sekarang ini masih terpelihara 
pada suku Dani yang berkaitan dengan pernikahan. Biasanya, seorang pria yang 
ingin berkenalan dengan wanita harus membangun komunikasi dengan keluarga dekat 
wanita tersebut. 

Jika tawaran itu diterima, perempuan bersangkutan melakukan apa yang 
disebut warga Dani bingga lakue atau bingga lakarak. Pada tahap ini, perempuan 
datang ke rumah laki-laki untuk memasak, lalu pergi. Tugas itu berlangsung 
lebih dari satu bulan. Apabila pihak perempuan merasa sudah waktunya 
mengetahui sikap orang tua pria, dilakukan upacara koeame wagarak atau 
perempuan datang untuk mendengar jawaban dari orang tua pria. 

Jika perempuan tersebut rajin dan cocok untuk jadi istri anak 
laki-lakinya, selanjutnya pihak orang tua menyampaikan persetujuan. 

Tahap ketiga jalinan itu adalah koejiqui atau koejikopopiwogi. Pada tahap 
ini, orang tua perempuan mengantar anaknya kepada orang tua laki-laki. 
Biasanya, dilakukan acara potong babi dan diselenggarakan pesta adat. Sebelum 
diantar, orang tua perempuan merias sendiri anaknya, seperti mengenakan noken, 
kulit bia, dan berbagai perlengkapan adat lain. 

Setelah mengantar anaknya, orang tua perempuan pulang. Selanjutnya, orang 
tua laki-laki mendatangi orang tua perempuan untuk mendata semua jenis 
pengeluaran berkaitan dengan acara koejikopopiwogi, terutama biaya untuk 
periasan anak menantunya. Acara ini dalam bahasa setempat disebut koewupugi. 
Setelah semua pengeluaran direkap, baru dilakukan pembayaran oleh pihak 
keluarga pria kepada keluarga perempuan. 

Juga dijelaskan oleh Philipus, seorang suku Dani -juga lima suku lain: 
Amungme, Moni, Damal, Nudga, Mee- yang meninggal dalam perang harus dibakar. 
Pembakaran mayat tersebut merupakan persembahan kepada arwah nenek moyang. 

Sebab, kata Philipus, sebelum perang adat, kepala suku dan kepala perang 
harus melakukan upacara memanggil arwah. Menurut kepercayaan warga Dani, sudah 
ditentukan arwah nenek moyang yang menjaga mereka selama perang. 

Setelah membakar, kubu bersangkutan harus menyampaikan pada kubu lawan 
tentang nama dan identitas mayat yang dibakar. Menurut Philipus, ini bertujuan 
agar kubu lawan senang dan kubu yang menderita tidak mendapat gangguan dari 
arwah. 

Menurut data yang dihimpun Radar Timika dari sejumlah sumber, baik suku 
Dani maupun suku Damal memiliki sejumlah marga. Pada suku Dani, terdapat marga 
Wakerwa, Waker, Kogoya, Tabuni, Wenda, dan Magai. Pada suku Damal, marganya 
adalah Mom, Murib, Waker, Kum, Kiwak, Kibak, Jolemol, dan Magai.

Tokoh lain masyarakat suku Dani, NW (minta namanya diinisialkan), dan 
salah seorang tokoh pemuda suku Damal Edwin Mom yang ditemui JPNN Senin lalu 
menjelaskan, secara umum kehidupan suku Dani dan Damal termasuk yang 
terbelakang di Papua. 

Lambatnya kedua suku itu menerima kemajuan bisa dilihat dari sektor 
pendidikan dan sektor kehidupan sosial. Namun, yang paling utama penerimaan 
Injil (sebagai kabar baik) yang belum merata diterima masyarakat kedua suku. 

NW yang ditemui JPNN di Jalan Sosial, Jalur V Kwamki Lama, mengatakan, 
suku Dani dan Damal memang sering berperang. Menurut dia, bentrokan itu 
merupakan akibat iman kepercayaan secara umum masyarakat kedua suku belum kuat 
(teguh). ''Kabar dari Injil belum seluruhnya diterima masyarakat. Meski ada 
yang menerima, tapi hanya seberapa? Alasan itu menjadi dasar kuat sering 
terjadi perang walaupun masalah awalnya kecil."

NW kemudian menuturkan penyebab perang dan akibat yang biasanya 
ditanggung. Pertama, bila anak gadis orang lain diambil tanpa sepengetahuan 
orang tua atau keluarga dekat anak gadis itu. Pada era 1990-an, soal seperti 
itu diselesaikan dengan membayar lima ekor babi. Tapi, kemudian, denda bisa 
dibayar dengan uang.

Kedua, bila istri berselingkuh dengan pria lain (meksipun si lelaki 
bagian keluarga). Penyelesaiannya didenda lima ekor babi. ''Setelah itu bisa 
akur kembali. Tapi, bila pihak laki-laki bersikeras, maka setelah dibuat denda 
adat, sang istri dicerai."

Ketiga, pencurian terhadap barang berharga seperti kulit kerang yang 
sering dipakai sebagai maskawin pihak laki-laki kepada pihak perempuan. 
Penyelesaiannya dibuat acara potong dua ekor babi, lalu barang berharga yang 
dicuri itu dikembalikan. 

Keempat, pencurian terhadap hewan piaraan, seperti babi, burung, atau 
tanaman di kebun (ladang). Penyelesaiannya, diselenggarakan rapat, lalu 
dilakukan pembayaran denda tiga ekor babi sebagai ganti rugi.

Kelima, bila ada dua orang berbeda marga makan bersama, setelah saling 
berpisah kemudian salah satunya sakit. Ini bisa menimbulkan rasa curiga kepada 
orang yang sebelumnya makan bersama si sakit.

Keenam, bila ada sepuluh orang bekerja di ladang, kemudian salah satu di 
antaranya terluka. Kecurigaan korban dilukai oleh sembilan orang lain bisa 
muncul bila tidak ada penjelasan kepada keluarganya. 

Ketujuh, misalnya ada tiga anak kecil bermain bersama, kemudian salah 
satunya tiba-tiba sakit. Dua anak lainnya akan dimintai penjelasan. Bila tidak 
ada penjelasan yang baik dari kedua anak tersebut, orang tua akan 
menyelesaikannya.

Dalam kehidupan sehari-hari suku Dani, kata NW, rasa curiga masih tinggi. 
Seorang laki-laki yang kedapatan berjalan dengan seorang gadis tanpa ikatan 
resmi, misalnya, bisa menyulut perang.

Menyikapi perbedaan suku dan budaya warganya, Bupati Kabupaten Mimika 
Klemen Tinal menegaskan bahwa semua suku di wilayahnya, asli maupun pendatang, 
mendapat perlakuan sama dalam memperoleh kehidupan yang layak. 

Ditemui JPNN di Kwamki Lama saat bertemu dengan warga kubu tengah, Rabu 
(2/8), bupati menyatakan, meskipun ada suku asli seperti Kamoro dan Amungme 
ditambah Suku Dani, Damal, Mee, Nduga, dan Moni, serta suku-suku lain dari 
Papua maupun luar, perlakuan yang diberikan sama. 

''Baik itu pembinaan serta pelayanan akan dilakukan sama, tidak ada 
perbedaan," ujarnya. 

Penerapan hukum positif pun diinginkan bupati dalam menangani berbagai 
persoalan di tengah masyarakat. ''Hukum positif yang akan mengikat semua. 
Dengan hukum (positif) ini, semua akan hidup berdampingan satu dengan yang 
lain. Dan di Mimika ini tidak ada masalah suku,'' ujarnya

Senin, 20 Desember 2010

Janji Suku Toe Menjaga Adat Manggarai Barat

Janji Suku Toe Menjaga Adat Manggarai Barat


Bagi Suku Toe bila ada tamu tak disambut itu berarti mereka telah gagal menjaga adat Manggarai Barat. Suku lokal di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu meletakkan adat di atas kepala sebagai pedoman hidup yang harus dijunjung tinggi.

Pantas bila siapa pun orangnya bila datang menjadi tamu salah satunya di Desa Liangdara Kecamatan Sanunggoang Manggarai Barat akan mendapatkan ritual penyambutan yang panjang.

Inilah yang akan dipersembahkan Suku Toe untuk tamunya, yakni satu cangkir tuak raja yang telah difermentasi paling sebentar sebulan.

Perempuan-perempuan berikat bali belo dan berpakaian birimbeli datang menyambut.

Beberapa perempuan berusia lanjut memukul gong dan gendang menimbulkan suara ritmik yang sederhana.

Sementara sejumlah lelaki Suku Toe menari tari tradisional Caci dengan satu janji bahwa luka yang tertoreh selama mereka menari adalah kebanggaan tersendiri.

Primus Sata, tokoh seni dan budaya Suku Toe, menjadi salah satu pria yang hingga kini memimpin ucapara penyambutan tamu tersebut.

"Setelah tidak ada lagi perang tanding, tarian caci digelar untuk menyambut tamu, saat perkawinan, atau setelah masa panen," kata pria 56 tahun itu.

Bagi pria beranak lima itu, mempertunjukkan tari Caci adalah upaya untuk menjaga adat Manggarai Barat agar tidak tertinggal sebagai kenangan belaka.

Ketika tamu datang, ia menukar baju petaninya, berganti kain songket, ikat kepala, dan tubirampai sebagai simbol jawara berjenggot.

Primus akan mengumpulkan anggota Sanggar Seni Nipuceki pimpinannya untuk menyambut tamu-tamu yang bertandang ke desanya.

"Soal berapa rupiah yang akan kami dapat itu tidak pernah kami persoalkan, motivasi kami ini memuji dan memuliakan kesenian dan kebudayaan di Manggarai Barat agar tetap lestari, itu yang penting," kata Primus yang tak segan mencium tangan tamu-tamunya itu.

Ia juga akan merasa senang bila pertunjukan adatnya dapat menghibur para pendatang yang mampir ke desanya.

Tari Caci menarik lantaran merupakan tarian perang zaman dahulu yang kini telah bermetamorfosis menjadi tarian yang mempertontonkan adegan perang tanding antarjawara dengan menggunakan cambuk yang terbuat dari kulit kerbau.

Meski sangat mungkin terluka, para penari caci akan merasa sangat bangga bila terluka atau bahkan melukai lawannya. Uniknya, tak pernah ada dendam, meski kerap ada yang terluka parah bahkan ada yang harus merelakan anak matanya terkena cambuk dan terpaksa buta setelah.

Tak cuma tari Caci, hiburan lain salah satunya Rangkuk Alu akan dipertontonkan. Primus semakin senang bila tamu-tamu turut serta menari bersama mereka.

Tak SendiriPrimus tak sendiri menjaga adat Suku Toe di Manggarai Barat, Usman Tan adalah jawara Tari Caci kondang yang telah menari sejak kelas 4 SD.

Pria Toe 31 tahun itu kerap pulang dalam keadaan luka-luka sesudah menari Caci terkena cambuk kulit kerbau namun toh Usman tak pernah menaruh dendam.

"Tari Caci itu persahabatan, meski terluka tapi tidak ada dendam, kalau luka sembuh semua sudah hilang," katanya.

Niat di ujung hatinya hanyalah satu, yakni menjaga adat sukunya agar tak hilang ditelan zaman.

Regina Iya, perempuan Toe 34 tahun itu, sering juga menari rangkuk alu yang dipelajarinya sejak masih kecil. Tarian yang asal-usulnya merupakan upaya muda-mudi mencari jodoh itu menjadi salah satu janji suku Regina Iya untuk dijaga sampai mati.

Saat ditanya mengapa Iya melakukan itu, tidaklah dia ingin pergi merantau agar mendapat lebih banyak uang, Iya hanya singkat menjawab, "Aku niak Flores" (Aku cinta Flores).

Perempuan yang sehari-hari dipanggil Iya itu tahu betul bagaimana melompat di antara bambu yang yang digerak dan pukulkan oleh sekumpulan perempuan lain. Itu tari yang khas betul-betul adat Toe lantaran menggunakan bambu sama seperti asal usul nama suku mereka Toe yang berarti bambu hutan yang tumbuh liar.

Itulah mereka, Suku Toe, di pintu gerbang Nusa Tenggara Timur. Mereka yang sehari-harinya berkubang lumpur berkebun kopi, cokelat, dan kemiri, memanen buah durian ruteng, mangga, rambutan, dan salak setahun sekali, seluruhnya telah sepakat pada satu janji, yakni menjaga adat Manggarai Barat.

Suku Toe bersahabat dekat dengan kesederhanaan. Bagi mereka rumah mewah dan pakaian indah bukan tujuan. Adat dan budaya mereka adalah saksi yang telah menjadikan mereka masyarakat yang teramat tulus terhadap pendatang.

Banyak dari mereka kini mengenyam pendidikan tinggi. Tidak sedikit yang tak ragu untuk menuntut ilmu ke kota di Ende atau Kupang untuk belajar di universitas.

Anak kedua Primus Sata bahkan dikirim ke Jember, Jawa Timur, untuk menjadi sarjana kebanggaan sukunya.

Uang pangkal kuliahnya dibayar dari hasil panen durian ruteng setahun sekali yang paling sedikit menghasilkan Rp15 juta. Itu belum termasuk panenan kopi dan kemiri dari lahan 0,5 ha miliknya.

Namun toh kearifan lokal telah menjadikan mereka kaum yang sama sekali jauh dari kata sombong.

Toe akan menelan bulat-bulat para tamunya dalam dekap keramahan mereka. Teramat mudah membekas di hati ketulusan lelaki, perempuan, dan anak-anak Toe yang merangkai salam kesederhanaan bagi pendatangnya.

Mereka akan selalu bergegas menyambut tamu, tersenyum malu-malu, dan tak pernah keberatan untuk diambil gambarnya.

Perempuan Toe akan buru-buru merapikan rambut anaknya saat seorang tamu ingin berfoto dengannya.

Budaya mereka menggariskan anak pertama dalam keluarga memegang tanggung jawab besar. Maka pantas bila akan tersaji pemandangan anak perempuan kecil menggendong adik-adiknya yang masih bayi. Mereka pun tak ingin ketinggalan momen untuk menyambut tamu.

Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Manggarai Barat, NTT, Alexander Gabut, sepakat mengupayakan sebuah preservasi dan konservasi bagi Suku Toe.

Pihaknya mendukung pelestarian seni dan budaya lokal untuk kepentingan pariwisata yang menyejahterakan masyarakat sekitar.

"Ke depan kami akan kembangkan sarana dan dukungan infrastruktur agar pariwisata di wilayah Manggarai Barat semakin siap menerima lebih banyak kunjungan wisatawan," katanya.

Dengan begitu, wisatawan akan sepakat pada kalimat, "Aku taukolek ce e Flores" (Aku akan kembali lagi ke Flores). Sebuah janji untuk Suku Toe yang selalu menanti untuk ditepati.



Sumber:antara news

Jumat, 17 Desember 2010

Malam 'Lucia' Tradisi Menyambut Natal










Sayup-sayup suara kidung terdengar tak lama setelah lampu padam. Dipimpin seorang perempuan yang bermahkotakan lilin-lilin dan bergaun putih, belasan orang yang mengikutnya kemudian bernyanyi merdu. Penampilan mereka membawa suasana terang dan ceria di tengah suasana gelap dengan mengajak hadirin bernyanyi bersama.

Suasana khidmat itu berlangsung di kediaman Ewa Polano, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, 16 Desember 2010. Bersama dua ratus hadirin, Polano dan masyarakat Swedia yang berdomisili di Jakarta merayakan suatu tradisi menyambut Natal.

Di Swedia, tradisi itu disebut perayaan Santa Lucia, atau disingkat "Perayaan Lucia." Menurut berbagai referensi, Lucia merupakan seorang perempuan di Sicilia, Italia, yang hidup di akhir abad ke-3. Berasal dari keluarga kaya, Lucia mendedikasikan dirinya membantu kaum miskin dan tidak mau dinikahkan paksa demi membaktikan diri kepada Tuhan. Lucia akhirnya dikenang sebagai tokoh suci.  

"Tradisi ini untuk mengenang seorang tokoh suci dari Sicilia bernama Lucia. Dia hadir di tengah kegelapan di musim dingin sebagai simbol cahaya dan kekuatan yang baik di dalam hidup,"kata Polano.

Maka, dalam perayaan tahunan itu, Lucia disimbolkan sebagai perempuan bergaun putih dengan mengenakan mahkota lilin di kepala. Dia diikuti sejumlah pendamping perempuan (tarnor) dan laki-laki (stjärngossar). Sama-sama mengenakan baju putih, para tarnor mengenakan ikat kepala sedangkan yang laki-laki memakai topi kerucut dengan hiasan logo bintang.

"Mereka bernyanyi lagu-lagu pujian untuk Lucia. Mereka selanjutnya membawa berbagai bingkisan berupa kopi, roti khas Swedia (lussekatter) dan biskuit jahe," kata Polano.
Di Swedia, prosesi itu umum diadakan di berbagai tempat, seperti di rumah, sekolah, kantor, rumah sakit dan gereja. "Setelah mendengar kidung, mereka tidak langsung pulang, namun bercengkerama sambil menikmati hidangan-hidangan khas negeri kami, seperti arak glogg-wine, roti lussekatter dan biskuit jahe, serta makanan tradisional lain" kata Polano.

Tradisi perayaan Santa Lucia ini tidak hanya di Swedia, namun juga di sejumlah negara Eropa lainnya. Perayaan ini umumnya berlangsung setiap tanggal 13 Desember.
Banyak orang Swedia percaya, tanggal 13 Desember memiliki malam yang paling panjang dan paling gelap di sepanjang tahun. Itulah sebabnya tanggal 13 Desember malam dianggap waktu yang tepat untuk menghadirkan "Santa Lucia."

"Kendati jauh dari kampung halaman, perayaan tradisi di Jakarta ini tidak kalah meriah," kata Polano. Perayaan di Jakarta tahun ini didukung delapan perusahaan Swedia, yaitu Celsiunator, Ericsson, Lux, North Sea Boats, SKF, Nordfinans, Wärtsila and CombiBox.

KOTAK KOMENTAR

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...